Yang tidak terlihat

Hari ini saya kembali mencoba untuk menulis perasaan saya yang campur aduk antara beban fisik dan beban mental, yang mungkin belum seberapa jika dibandingkan beban yang dipikul oleh para nabi dan rosul. Hanya ingin menuangkan sedikit unek-unek yang mungkin bisa kita ambil pelajaran, yang semoga bermanfaat.

Rutinitas yang selama ini saya jalankan sepertinya membuat saya jenuh, dari urusan kerjaan yang menumpuk, janji yang belum terrealisir, dan keinginan untuk istirahat sejenak. Meski harus saya sadari ini mesti harus dijalani sebagai proses menggapai cita-cita dan Kejenuhan ini bukan berarti harus membuat saya berhenti menjalaninya, tapi justru ini adalah tantangan untuk saya agar bisa bagaimana caranya supaya rutinitas ini lebih menyenangkan.

Baru-baru ini saya mulai menyadari bahwa sakit fisik kadang tidak disebabkan oleh beban fisik tapi kadang lebih dipengaruhi oleh beban perasaan, bagi orang yang bisa mengatur beban perasaannya mereka cenderung bisa sembuh dari sakit fisik lebih cepat. Seperti yang saya alami, ketika saya sakit kemarin, saya mencoba mengatur perasaan saya dari rasa khawatir dan menyerahkanya kepada Allah SWT, hasilnya saya relatif lebih cepat kesembuhannya dari teman-teman yang pada waktu bersamaan mengalami sakit.

Ini juga menyadarkan saya bahwa ada sesuatu yang tidak terlihat yang kadang terabaikan yang sebetulnya itu dekat, yaitu hati kita, dan kita tahu bahwa perasaan itu adanya di hati dan setiap manusia mempunyai hati.Sebelum jauh-jauh melihat keluar sana, perbaikilah yang dekat-dekat dulu. Oke.. 

| 0