Kritisi Kenaikan BBM

Masalah itu akan terus terulang terus dan terus, selama masalah ditangani bukan dengan ilmu, masih mendahulukan kepentingan sesaat atau nafsunya. Nafsu kepentingan sesaat saat ini begitu jadi trend, demi popularitas, demi prestise, demi jabatan, demi keuntungan materi segala upaya dilakukan, sehingga budaya keilmuan menjadi dikesampingkan. Akibat yang muncul ketika nafsu kepentingan didahulukan dan ilmu dikesampingkan adalah timbulnya kerusakan-kerusakan bahkan kehancuran. "Jika masalah diserahkan kepada yang bukan ahlinya (yang memiliki ilmu tentang bidang yang dihadapi) maka tunggulah kehancurannya", perkataan ini diucapkan 15 abad yang lalu dan telah banyak buktinya yang membenarkan perkataan itu.

Kenaikan BBM sudah dijadikan pilihan pemerintah dan rakyat kecil mungkin hanya bisa pasrah dan menerima BLT per bulan Rp. 150 ribu itupun katanya hanya untuk 9 bulan,  seandainya rakyat melalui wakil-wakilnya disenayan hanya berdiam diri. Kenaikan BBM adalah hal yang sudah beberapa kali dilakukan pemerintah saat ini, dengan berbagai alasan dan argumen.

Saya merasa perlu berfikir kritis, melihat kondisi jalanan atau lalulintas, saat ini begitu banyak kendaraan bermotor, bahkan jalanan di kota-kota pun hampir setiap hari padat bahkan macet, sungguh ini pemborosan BBM yang terang-terangan yang dibiarkan pemerintah. Saya merasa wewenang pemerintah begitu lemah sehingga untuk mengatur penggunaan BBM saja tidak mampu, lalu kemudian malah membuat masalah menjadi rumit dengan menaikan BBM, yang dampaknya bukan hanya untuk yang mempunyai kendaraan bermotor, dipastikan harga sembako bagi rakyat kecil dipastikan naik.

Nafsu Kepentingan atau Ilmu, manakah yang akan anda pilih, wahai penguasa?       

| 0