Cerita dari rumah : Adikku dan kacamatanya

Hari ini ada kejutan, sudah lama tidak pulang ke rumah, adikku nomor dua sedang pakai kacamata, kacamata biasa, kacamata baca, aku kira cuma sekedar gaya, "min satu" katanya. Sambil masuk ke dalam rumah, aku nyeletuk "Wah, jadi dua orang yang pakai kacamata di rumah", sebelumnya yang pakai kacamata cuma kakakku seorang. Diam-diam aku berharap, seperti kakakku yang pinter dan jenius karena satu-satunya dalam keluarga yang kuliah masuk ITB, aku harap adikku ini juga bisa pintar dan jenius terus bisa kuliah masuk ITB, seperti abangnya.

Saat itu katanya adikku saat di sekolah duduk di bangku terdepan anehnya tulisan di papan tulis jadi buram dan tidak bisa terbaca, akhirnya beberapa hari kemudian kakakku membawa adikku periksa mata, hasilnya untuk membantu penglihatan adikku itu, harus pake kacamata. Hidup memang misteri, aku yang sedari dulu yang suka terkagum-kagum melihat orang berkacamata, "Pastilah dia orang pintar atau jenius" gumamku, sampai aku pernah ada keinginan memakai kacamata demi agar kelihatan pintar atau jenius, yang terjadi malah adikku yang harus pakai kacamata, yang waktu SD ketahuan nilai Matematikanya hanya 60, biarlah, jangan difikirkan fikirku, Alloh memang maha kuasa atas segala sesuatu.

Tapi mungkin Alloh sudah merancang sedemikian rupa kehidupan ini sehingga di balik itu semua akan ada hikmah yang besar, aku jadi penasaran, apakah itu?. Saat ini aku hanya mencoba berbaik sangka dan selalu berharap semoga semua berjalan baik-baik saja. Aku harap sahabat-sahabat yang membaca tulisan ini turut mendo'akan kebaikan untuk keluargaku agar selalu sehat, biasanya doa orang sholeh diqabul oleh Alloh.

Wallohu'alam    

| 4