Melawan Arus

Ingin menjadi apa kita ini, menjadi kaum pengekor atau kaum yang berfikir dulu dalam mengekor. Menjadi kaum apapun mengekor atau pelopor, harus bersifat bijak juga. Meski saat ini kita perlu perubahan, haruskah mengorbankan kebaikan yang ada?.
Alangkah bijak kalau dipilah dulu mana yang baik dan yang jelek, tidak asal berubah, sehingga
hasilnya tidak seperti yang diharapkan, atau malah jadi lebih jelek.

Melawan arus jadi judul tulisan ini, ingin berbagi pendapat dalam menjalani kehidupan yang aneh, karena semakin banyak tahu, semakin kita merasa kurang dan terus merasa kurang. mengapa demikian mungkin karena semakin banyak tahu semakin banyak mimpi-mimpi. baiklah sobat, saya akan mulai mempertanyakan keadaan kita sekarang apakah sudah lebih baik?. tentu setiap orang, ada yang sudah baik tapi ingin lebih baik atau belum dan lagi menuju ke yang lebih baik.

satu kata yang dituju adalah kita butuh perubahan, meski perubahan yang diinginkan selalu menawarkan dua jalan yaitu cepat (instan) dan bertahap (step by step). Yang instan lebih bersifat temporary atau sementara karena prosesnya terlalu cepat dan begitu juga efeknya tidak permanen. Berbeda dengan proses step by step yang melalui pengujian dan referensi yang banyak karena dalam proses ini harus ada pengujian dan referensi yang jelas.

Memulai proses step by step memang butuh kesabaran ekstra sesuai dengan hasil yang akan didapat, perubahan yang permanen atau paling tidak semipermanen, dan tidak terlalu berefek radikal, ada proses adaptasi. Melawan arus harus juga mempertimbangkan dua jalan ini. Instan atau step by step.

Mungkin akan butuh waktu yang tidak sedikit untuk memutuskan, meski ada yang sudah terbiasa dengan yang instan. Memulai perubahan memang selalu diinginkan setiap orang yang selalu mempunya kebutuhan yang tidak pernah cukup, kalau mau jujur. Selalu ada arus yang harus dilawan, dan tergantung kita apa jalan yang kita ambil instan atau step by step.

Kalau bisa step by step mengapa harus instan.

| 0